Published Oct 20, 2007 in Umum

Satu minggu ini, sejak dari 14 sampai 20 Oktober 2007, saya beberapa kali ke Jakarta untuk meeting dan ketemu beberapa orang, walaupun dalam suasana masih ber-Lebaran.

Enak bener suasana jalan-nya, biasanya saya ke kantor paling cepat 90 menit, sekarang bisa 60 menit, dan dari Mangga Dua Square ke Kelapa Gading, biasanya 60 menit, sekarang cuma 20 menit - asli … enak betul ! Serasa berada di sorga !!

My Bro, Budiman ada di Jakarta, jadi selama ini saya temani dia lihat-lihat DVD bajakan, terus beli raket dan jalan-jalan di Jakarta yang langeng tersebut.

Saya kenal Bro Budiman tahun 1996-an, pada saat saya ke Comdex untuk lihat pameran dan Budiman sedang menjaga stand perusahaan Taiwan.

Karena badge saya Indonesia, dia langsung tanya dan kita ngobrol santai dan berakhir dengan bisnis memasukan modem US Robotic dari Amerika.

Pada saat itu, tidak banyak yang jual modem US Robotic dan saya masukan modem yang hanya 14.400 bps itu seminggu sekitar 20 buah, sehingga lumayan besar juga bisnisnya.

Sayang hanya sekitar satu tahunan masa kejayaannya, karena begitu banyak yang pakai, banyak juga yang jualan dan masukan ke Indonesia.

Selama liburan Lebaran ini, saya ngobrol-ngobrol memikirkan peluang bisnis baru untuk masa depan, karena sepertinya kita harus membuat terobosan supaya bisa survive.

Bro Budiman bawa iPHONE juga dari Amerika, dan dalam dua jam, langsung di “hack” oleh xnuxer dan berhasil dengan sempurna, sehingga sekarang iPHONE bisa dipakai ke GSM Indonesia.

Sepertinya, Apple akan nyumpah serapah dengan semua teknologi yang dia sembunyikan ini, karena kalau kita lihat punya waktu lihat di web, banyak bener cara untuk meng-”hack” iPHONE ini.

Bogor, 20 Oktober 2007

Published Oct 14, 2007 in Umum

Saya iseng posting di milis, tanya siapa yang pertama kali berbisnis rental komputer di Indonesia (sebelum 1984), karena sebelum jamannya warnet, usaha rental komputer itu menjamur dimana-mana, terutama di daerah kampus.

Di Bogor, yang banyak rental komputernya di daerah Darmaga dan di belakang Internusa, dengan biaya yang sudah sangat terjangkau, mulai dari Rp 500,- per jam-nya.

Sampai hari ketiga, belum ada yang me-respon membuka usaha rental komputer di tahun 1984, dan respons yang ada kebanyakan membuka memori lama, sampai akhirnya saya ketemu lagi dengan “orang-orang lama” di japri atau di milis.

Kebiasaan “ngecer” atau “ngeteng” ini merupakan perwujudan dari ketidak mampuan bangsa Indonesia untuk melakukan sesuatu secara utuh, beli rokok “ngeteng”, pakai komputer “ngeteng”, bayar pulsa telepon “ngeteng”, demikian dengan akses Internet yang “ngeteng” melalui warnet.

Dengan pola “ngeteng” ini pula, banyak pengusaha yang dapat sukses, misalnya perusahaan telekomunikasi, pemakaian kartu prabayar konon lebih besar dibanding paska bayar, karena dengan “ngeteng”, kita mengeluarkan uang sedikit-sedikit, walaupun akhirnya mungkin sama atau lebih besar dari yang paska bayar.

Perusahaan rokok juga banyak mendapat keuntungan dari kebiasaan “ngeteng” ini, terutama membuat komunitas warung-warung di pinggir jalan, yang akhirnya meningkatkan ekonomi kerakyatan. Sewaktu saya di Sudan, banyak pedagang rokok di pinggir jalan, tetapi mereka menjual rokok berdasarkan bungkus, minimal 5 batang satu bungkus, dan tidak ada yang jual “ngecer” satu batang (silakan lihat dokumentasi saya di Sudan di tahun 2003 –> http://www.sunggiardi.com/michael/sudan/page-07.htm).

Berbeda dengan orang Amerika yang punya dasar selalu mau kredit, orang Indonesia selalu mau membagi sesuatu menjadi bagian yang paling kecil, sehingga harganya murah dan terjangkau. Akibatnya, bisnis di Indonesia kebanyakan “nyari murah” tanpa memikirkan yang lain.

Segi positif dan negatif dari kebiasaan “ngeteng” ini mestinya dicari jalan kelur, karena dengan pola kebiasaan yang sudah tertanam beberapa generasi ini, sepertinya kita dapat membuat satu solusi win-win buat mereka semua.

Rental komputer, warnet, RT-RW-Net merupakan solusi “cespleng” di bidang teknologi informasi, dan kita tunggu lagi solusi “ngeteng” lainnya yang sesuai dengan kebiasaan bangsa Indonesia.

Bogor, 14 Oktober 2007

Published Oct 12, 2007 in Umum

Hari liburan Lebaran 2007 ini saya berkesempatan untuk bongkar-bongkar barang lama, dan secara tidak sengaja ketemu satu buku berbentuk buletin, yang saya buat tahun 1987 untuk Klub Komputer Batutulis yang berdomisili di Bogor.

Klub Komputer Batutulis dimulai tahun 1986 (lihat buletinnya sudah Volume II, atau tahun kedua), dan merupakan sarana yang diberikan ke warga Bogor untuk dapat mengejar teknologi komputer, karena kebetulan di Jakarta, saya bersama dengan Kosasih Iskandarsyah, almarhum Aldi Jenie, Yusuf Supardi dan beberapa kawan yang saya lupa namanya, membentuk klub komputer juga yang diberi nama Pangkalan PISI.

Buletin yang dibuat dengan menggunakan program WordStar dan diketik dengan menggunakan printer daisy wheel merk Seikosha digabung dengan printer dot matrix dan illustrasi manual

Selain membentuk Klub Komputer berbasis IBM PC yang mungkin pertama di Indonesia, pada tahun 1984, saya juga membuka rental komputer pertama di Bogor (atau di Indonesia ?), dimana saya menyediakan tiga komputer di rumah paman saya di Jl Gunung Gede (sekarang Jl. Raya Pajajaran) untuk disewakan dengan biaya Rp 10.000,- per jam, termasuk dipersilakan untuk mencetak di printer daisy wheel dengan program WordStar.

Sepertinya, ini adalah cikal bakal warung Internet yang sekarang sudah mewabah dimana-mana, dan dibuat juga pertama kali oleh saya tahun 1996, di restoran yang berada di tengah Kebun Raya Bogor, yang kebetulan juga adalah kantor pertama dari ISP BoNet di tahun 1995.

Coba deh di konfirmasi keberadaan rental komputer ini, apakah ada rekan-rekan di kota lain yang sudah membangun rentalnya di sekitar tahun 1984.

Bogor, 12 Oktober 2007