Published Nov 03, 2007 in Umum

Semakin kita belajar, semakin terasa kita adalah makhluk Tuhan yang bodoh.

Filosofi ini mewujudkan suatu semangat, dimana kita tetap harus mencari ilmu, untuk dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Teknologi apa lagi sih yang mesti dipelajari ? Koq nggak putus-putusnya belajar ?

Pertanyaan diatas selalu ditanya ke saya, dan saya selalu menjawab, belajar itu salah satu ilmu untuk mengurangi stress, karena kita sudah dapat menaklukan kekhawatiran dan menjawab pertanyaan yang belum bisa dijawab.

Selama empat hari di Kanda, satu daerah di Tokyo, saya memperdalam teknologi WiFi lanjutan, dimana pengendalian sistemnya tidak seperti cara kuno yang satu-per-satu, dan disana juga saya menyadari, bahwa diatas langit ada langit !

Perjalanan ke Jepang ini bukan yang pertama kali untuk saya, tetapi merupakan yang pertama kali tinggal lebih dari satu hari, karena biasanya saya ke Jepang sekedar “tidur malam” atau “tidur siang” menuju ke Amerika, dengan menggunakan visa off shore.

Baru kali ini saya pakai visa beneran, harus minta ke Kedutaan Jepang di Thamrin dan sekaligus bayar Rp 280.000,-

Kaget juga tinggal di hotel seharga 1,3 juta, tetapi suasananya seperti hotel kelas 400 ribu di Jakarta, sekelas Ibis, Mercure, Novotel atau Sofitel. Kamar mandinya menggunakan teknologi plastik, sehingga kalau bergerak berderit-derit, dengan ukuran yang pas-pas-an, dan kalau mandi seperti iklan sabun (tangan ke atas), pasti mentok kesana-kemari.

Yang juga bikin surprise, Jepang sudah meng-adaptasi teknologi air bersih, sehingga air di hotel bisa diminum langsung, seperti yang ada di Amerika.

Keran di kamar mandi hotel, yang airnya bisa langsung di minum

Yang juga aneh, banyak sekali vending machine untuk membeli minuman atau rokok di sepanjang jalan di Tokyo, kalau di Indonesia mirip warung-warung pinggir jalan, yang tidak ditunggu oleh orang dan tidak terkesan bikin kumuh suasana.

Mesin-mesin itu dilengkapi dengan lampu yang menarik, sehingga kelihatannya menyenangkan, dan hebatnya 99% jalan dengan baik, karena waktu saya ke Amerika bulan Mei-Juni lalu, dari 4 vending machine yang saya coba, ada 2 yang error dan “menelan” uang receh saya.

Selama di Tokyo, saya belum pernah mendapatkan vending machine yang error (ngomong-ngomong, bahasa Indonesianya vending machine apa yah ?)

Vending machine yang berserakan di sekeliling kota Tokyo

Makan di Tokyo, baik itu makanan biasa atau Sushi lumayan mahal kalau di konversi ke Rupiah, sehingga lebih baik jangan hitung-hitung Rupiahnya, karena sekali makan sekitar 80 ribu, dengan makanan yang setara dengan 30 ribu di Jakarta.

Transportasi paling murah di Tokyo adalah kereta api, dan naik kereta api itu sangat menyenangkan, bersih dan tepat waktu, ongkos dari Narita airport ke Kanda sekitar 1.600 Yen, atau setara dengan 128 ribu untuk sekitar 60 menit perjalanan.

Saking banyaknya kereta di Tokyo, warnanya macam-macam, dan kita bisa bingung kalau belum terbiasa naik kereta api disana, belum lagi hurufnya yang kebanyakan tidak menggunakan huruf Latin, sehingga cukup menyulitkan kita untuk kemana-mana.

Setelah empat hari dalam suasana Jepang, akhirnya saya pulang ke tanah air dengan menggunakan pesawat JAL, dengan naik kereta express dari Kanda ke airport Narita.

Lihat juga Michael’s Activity 2007

Bogor, 2 November 2007