Satu konsep untuk mengejar ketinggalan akan teknologi informasi (3 dari 4 tulisan)
Dua tulisan tentang RT-RW-Net hanya membahas latar belakang dan konsep yang ingin diterapkan dalam pembangunan RT-RW-Net, sementara dua tulisan berikutnya adalah cara praktis untuk membangun RT-RW-Net di sekitar kita dengan usaha sendiri dan bersama-sama tetangga.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menggalang tetangga untuk ikut membangun RT-RW-Net, tanya-tanya ke tetangga kiri, kanan, belakang kiri, belakang kanan dan belakang (totalnya enam rumah), karena enam rumah ini dapat diakomodasi oleh switch yaitu perangkat pembagi sinyal Internet yang terdiri dari 8 port. Jika sudah ada enam rumah yang akan disambung ke Internet, kita akan lebih mudah melakukan instalasinya, kalau kurang dari enam, sebaiknya meyakinkan dulu tetangga yang ada.
Kesulitan utama pembangunan RT-RW-Net adalah jumlah orang (peserta RT-RW-Net) yang tidak bisa kita pastikan, terkadang ada tetangga yang awalnya begitu bernapsu untuk nyambung ke Internet dengan jaringan RT-RW-Net, tapi pada saat diminta uangnya, yang bersangkutan pura-pura tidak mengerti dan bisa bilang nanti dulu. Demikian juga rumah-rumah yang tidak ditempati, karena hanya untuk investasi saja atau hanya untuk ditinggali sekali-sekali.
Pemikiran untuk membangun mulai dari 6 rumah adalah dari segi ke praktisan, karena dengan 6 rumah biaya yang harus ditanggung kira-kira : membeli switch atau hub 8 port untuk menyebarkan sinyal Internet harganya sekitar 400 ribu Rupiah, lalu 6 kali kabel sepanjang 30 meter (rata-rata setiap rumah), bisa juga kita beli satu gulung untuk 300 meter, harganya sekitar 700 ribu Rupiah. Konektor dan pipa paralon untuk mencegah dari hujan dan matahari ditambah ongkos pasang membutuhkan biaya sekitar 1,5 juta Rupiah.
Langkah berikutnya adalah mencari akses ke ISP terdekat, baik dengan menggunakan kabel maupun teknologi nirkabel yang lebih murah. Kalau menggunakan kabel, pilihannya hanya sedikit, yaitu menggunakan teknologi dial-up telepon biasa yang tagihannya bisa membengkak setiap saat atau menggunakan saluran ADSL dengan biaya bulanan sekitar satu juta Rupiah.
Kalau kita menggunakan teknologi nirkabel, biaya untuk membeli perangkat nirkabel sekitar 7 juta Rupiah sepasang, dan nilai ini masih harus ditambah dengan pembangunan tower jika memang diperlukan. Ambil saja kita cadangkan 2 juta untuk membangun tower, maka jumlah totalnya menjadi 11 juta Rupiah dan jika dibagi dengan enam rumah, masing-masing harus mengeluarkan biaya sekitar 1,9 juta Rupiah.
Akses ke ISP per bulan biasanya 4 juta Rupiah untuk 64Kbps, maka setiap bulan setiap rumah harus membayar sekitar 700 ribu Rupiah. Jumlah ini akan bisa turun jika pesertanya semakin banyak, karena perangkat nirkabel bisa dibeli sekali saja, sementara setiap bulan iurannya dibayar atas jumlah anggotanya.
Dengan kecepatan 64Kbps dari ISP, secara teoritis bisa melayani 15 komputer, dengan asumsi per komputernya mendapat kecepatan sekitar 4,3Kbps, jauh lebih cepat ketimbang menggunakan dial-up telepon biasa. Angka 4,3Kbps bisa bervariasi, tergantung beban pemakaian, karena kalau ke lima belas komputer semuanya mengakses Internet pada saat yang bersamaan, pasti kecepatannya menjadi lambat, sementara kalau rata-rata per satu saat hanya lima komputer yang mengakses Internet, maka kecepatan rata-rata adalah 13Kbps.
Kecepatan komputer ini sering menjadi perdebatan, karena jika salah satu rumah memiliki komputer Pentium IV dengan kecepatan 1,8GHz, sementara rumah yang lain mempunyai komputer Pentium III dengan kecepatan 600MHz, maka sudah jelas komputer dengan kecepatan tinggi akan lebih cepat mengakses Internet. Selain kecepatan prosessor, jumlah memori (RAM) juga berpengaruh terhadap kecepatan akses Internet.
Gotong royong - Pancasila memang mengilhami pembangunan RT-RW-Net, karena jaringan kebersamaan ini tidak akan bisa berhasil kalau warganya cuek dan tidak tanggap akan teknologi yang ada, apalagi masih banyak yang menolak keberadaan jaringan Internet dengan dalih banyak situs porno dan kekerasan, padahal jika dicermati, situs porno di Internet jumlahnya tidak lebih dari 3%, sementara lainnya berisi informasi yang bisa membawa bangsa kita sejajar dengan bangsa lain.
Dari tiga tahun pengalaman membangun jaringan RT-RW-Net, didapat berbagai pengalaman yang menyenangkan atau menyakitkan, seperti seringnya terjadi sambaran petir ke perangkat yang ada di jaringan RT-RW-Net, sehingga kerusakan membuat akses jaringan Internet menjadi terhambat. Juga masih belum terjangkaunya harga perangkat-perangkat penunjang akses Internet ini, walaupun hari ke hari harganya semakin murah dan semakin banyak fungsinya.
Perangkat nirkabel diharapkan bisa menggantikan perangkat jaringan dengan kabel dalam satu atau dua tahun ke depan, apalagi perangkat rumah sekarang sudah mulai dilengkapi dengan komputer dan jaringan, karena kebutuhan ke arah sana memang sudah ada. Sayangnya, di Indonesia belum bisa diwujudkan, karena infrastrukturnya sendiri masih compang-camping.
end of part three
Saya tertarik dengan pengembangan jaringan RT/RW,saat ini saya berlangganan Speedy Rp.200.000,-/bulan masih terasa memberatkan.Apakah Jaringn saya sudah bisa dijadikan modal untuk pembangunan RT-RW-Net?Kalok bisa untuk menjalankankan bagaimana caranya?
mohon saran.trimakasih
Dear Mas Yanu,
Pastikan dulu rame-rame dengan tetangga sepakat untuk bangun RT-RW-Net.
Michael