Hari ini saya sangat sedih sekaligus marah sekali, karena rekanan bisnis saya menuduh saya menipunya, hanya karena saya tidak mau memberikan kwitansi pembelian barang kepadanya.
Perjanjian memang sudah dibuat untuk saling transparan, tetapi apakah definisi transparan kita harus betul-betul “telanjang bulat” ? Sehingga tidak ada lagi privasi untuk berdua.
Memang iklim bisnis di Indonesia itu jorok sekali, semuanya mau ambil untung sebesar-besarnya, semuanya ingin menjadi yang nomor satu, tetapi selama saya berbisnis di komputer dua puluh lima tahun, saya belum pernah menipu dan mengelabui rekan bisnis saya, yang ada, saya selalu ditipu, makanya saya membuat produk yang berlogo Komodo, karena selama 25 tahun berbisnis di komputer, saya merasa selalu di “kadal”in.
Selama ini, kejadian orang menuduh saya menipu adalah yang kedua kali, yang pertama adalah pebisnis di Manado yang ditinggal rekan bisnisnya, lalu kemudian menyalahkan saya menipu mereka.
Kalau saya menjadi tukang tipu, apakah tidak ada malu saya “koar-koar” di media bebas, apalagi diberi kesempatan kepada pembaca blog ini untuk memberi komentar, karena semuanya demi kebaikan bersama dan mari kita bersama-sama mencoba memperbaiki iklim bisnis di Indonesia yang sudah acakadut.
Bogor, 14 November 2007
Wah, pengalaman yang tidak mengenakkan.
Ceritanya didetailkan dong…
Salam kenal.
Jangan di detail dong, nanti bisa merusak suasana bisnis ….. hehehehe
Soalnya bukan untuk menjelek-jelekan seseorang, tetapi lebih untuk pembelajaran ke yang masih baru masuk ke dunia bisnis di Indonesia.