Published Nov 15, 2007 in Umum

Impian untuk membuat produk sendiri sudah ada sejak tahun 2001, pada saat saya menghadiri pameran Wireless di San Fransisco, dan melihat bagaimana kemungkinan kita membuat satu produk buatan dalam negeri.

Sepulangnya dari Amerika, saya mulai bergerak untuk mewujudkan impian ini, dengan diskusi bersama Pak Agustinus dan Wak Haji Onno untuk membuat misalnya modem ADSL merk ONNO, dibantu juga oleh ide-ide dari Pak Mahmur Suriadiredja yang mantan Kadantel Bogor dan merupakan pendukung berdirinya BoNet di tahun 1995.

Semua pengalaman yang sudah didapat selama lebih dari 19 tahun berkecimpung di dunia hardware komputer dan distribusinya, dituangkan dalam proyek tersebut, yang akhirnya mentok di skala ekonomi, karena pada saat itu belum tersedianya platform hardware yang terbuka, yang sekarang dikenal sebagai Open Hardware.

Dalam perjalanan sebagai distributor atau wholesaler produk-produk wireless di Indonesia, saya terus melakukan inovasi dan memberikan pembelajaran kepada masyarakat luas, bersama Wak Haji Onno berkeliling Indonesia dan bahkan keluar Indonesia untuk menyebarkan ilmu yang belum banyak yang mengetahuinya.

Secara tidak langsung, saya juga turut dalam pengembangan produk yang akhirnya dipakai di Sudan, Afrika. Cirronet melalui kawan dekat saya Inamullah yang asalnya dari Pakistan, merambah produk berbasis DECT ke negara-negara berkembang atau bahkan saya pernah diminta di Wuhan Technical University, China, lalu di Telkom Malaysia di Kualalumpur.

Sementara semangat membuat produk lokal tidak pernah padam dan selalu mencari kesempatan di berbagai acara.

Sampai akhirnya, saya ketemu Rusdi Soetioso yang punya visi dan misi yang sama, dan sejak tahun 2006 yang lalu membuat perusahaan yang dasarnya adalah riset untuk membangun perangkat-perangkat jaringan komputer buatan lokal.

Membangun suatu industri yang cepat gerakannya sepertinya tidak mudah, software dan hardware berlomba-lomba menyalip pemikiran kita, sementara sampai hari ini sudah dua tahun PT Marvel Network Sistem belum jalan seperti yang diharapkan, karena banyaknya alternatif dan kesempatan yang sulit ditentukan dalam hitungan detik.

Sementara kesulitan klasik adalah terbatasnya human resource di Indonesia, yang betul-betul punya keakhlian dan akhlak yang baik. Karena beberapa kali saya pernah menghubungi “akhli teknologi informasi” dan semuanya berakhir dengan jalan buntu yang saya sendiri tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka tidak mau berkolaborasi.

Apakah mereka semua takut dimakan oleh Komodo …. hehehehe … nobody knows, dan memang sulit sekali mencari orang yang punya dedikasi dan dapat bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita yang sama.

Impian saya yang belum kesampaian sampai hari ini, adalah punya produk bikinan sendiri, dibuat betul-betul berdasarkan pemikiran sendiri dan semua fungsinya berdasarkan permintaan dari pasar Indonesia.

Mewujudkan impian ternyata tidak mudah, seluruh upaya sudah dilakukan, dan sepertinya tinggal menunggu tanggal dan hari baik untuk terwujudnya semua rencana dan impian.

Teknologi embedded PC akan mengguncang dunia, dan dalam waktu yang sangat cepat akan semakin banyak produk yang dibuat sendiri, berdasarkan kebutuhan spesifik.

Kita lihat saja yah ….

Bogor, 15 November 2007

Informasi lain di : embedded PC

Published Nov 14, 2007 in Umum

Hari ini saya sangat sedih sekaligus marah sekali, karena rekanan bisnis saya menuduh saya menipunya, hanya karena saya tidak mau memberikan kwitansi pembelian barang kepadanya.

Perjanjian memang sudah dibuat untuk saling transparan, tetapi apakah definisi transparan kita harus betul-betul “telanjang bulat” ? Sehingga tidak ada lagi privasi untuk berdua.

Memang iklim bisnis di Indonesia itu jorok sekali, semuanya mau ambil untung sebesar-besarnya, semuanya ingin menjadi yang nomor satu, tetapi selama saya berbisnis di komputer dua puluh lima tahun, saya belum pernah menipu dan mengelabui rekan bisnis saya, yang ada, saya selalu ditipu, makanya saya membuat produk yang berlogo Komodo, karena selama 25 tahun berbisnis di komputer, saya merasa selalu di “kadal”in.

Selama ini, kejadian orang menuduh saya menipu adalah yang kedua kali, yang pertama adalah pebisnis di Manado yang ditinggal rekan bisnisnya, lalu kemudian menyalahkan saya menipu mereka.

Kalau saya menjadi tukang tipu, apakah tidak ada malu saya “koar-koar” di media bebas, apalagi diberi kesempatan kepada pembaca blog ini untuk memberi komentar, karena semuanya demi kebaikan bersama dan mari kita bersama-sama mencoba memperbaiki iklim bisnis di Indonesia yang sudah acakadut.

Bogor, 14 November 2007

Published Nov 10, 2007 in Umum

Blog ini saya rubah judulnya, kalau sebelumnya Celotehan Michael S. Sunggiardi, sekarang diganti menjadi Celotehan Opa Michael.

Alasan penggantian ini supaya yang baca blog ini menjadi lebih friendly dengan sebutan saya di berbagai milis teknologi informasi dan komputer.

Untuk mengungkap sejarah tentang sebutan OPA ini, saya melakukan pencarian di milis asosiasi-warnet@yahoogroups.com dimana awalnya sebutan Opa Michael ini.

Rentetan peristiwanya adalah e-mail dari saya tanggal 6 Juni 2000, complain ke Yolanda Elvira (e-mailnya iamh3r3) yang posting dengan tulisan terlalu kecil dan menggunakan HTML, lihat di arsip milis asosiasi-warnet@yahoogroups.com di message 1873 untuk yang tidak menjadi anggota milis, dapat melihat screen capturenya di url ini

Kemudian, Rio Martin yang sampai sekarang masih aktif di milis asosiasi-warnet memberikan alternatif solusi di message 1952 (atau url ini).

Ada beberapa e-mail yang terkait dengan ukuran huruf ini, tapi pada jawaban saya ke milis tertanggal 13 Juni 2000, Yolanda Elvira langsung memanggil saya Opa, karena sudah tua dan tidak bisa baca huruf kecil. Lihat message 2731 atau screen capture-nya.

Dari saat itu, Rio, Leo, Yolanda dan yang lainnya memanggil saya Opa.

Sebutan Opa sebetulnya tidak berkaitan dengan usia, karena ada anggota milis lain yang usianya lebih tua dari saya, yaitu Pak Bagiono dari Diknas, yang akhirnya menyebut diri Opung, supaya kedengeran lebih tua dari Opa.

Dalam perjalanannya, di milis asosiasi-warnet ada juga yang disebut Oma, yaitu Ibu Boy yang pada awal-awalnya Awari berdiri, sangat aktif sekali. Kebetulan saya kenal dengan Ibu Boy yang waktu itu mengelola warnet di Universitas Tarumanegara (lihat foto di bawah, posisi di paling kiri bawah, disamping mas Koro) dan pernah dipakai tempatnya untuk seminar Wak Haji Onno W. Purno.

Foto bareng seminar Awari di Untar

Terima kasih untuk rekan-rekan yang sudah membuat nick name saya menjadi bertambah, karena sampai hari ini, nick name saya jumlahnya menjadi tiga, termasuk panggilan Opa.

Bogor, Hari Pahlawan - 10 November 2007