Published Nov 07, 2007 in Umum

Terima kasih kepada Pak Azhar Hasyim, Direktur Standardisasi Postel yang sudah meluluskan produk Komodo Borneo dan Komodo Bali dari PT Marvel Network Sistem.

Dengan layanan yang prima, tim-nya Pak Azhar Hasyim betul-betul bekerja secara profesional, walaupun awalnya sempat mandeg juga sedikit.

Terima kasih juga saya haturkan kepada Pak Arnold Ph. Djiwatampu dari PT. Tiara Titian Telekomunikasi dan Pak Hidayat Tjokrodjojo dari PT Realta Chakradarma yang sudah banyak memberikan masukan dan membantu proses sertifikasi dari Komodo ini.

Terima kasih untuk kebersamaan semua tim Komodo di sarangnya di Mangga Dua Square; Melinda Susanti, Dani Firman Syah, Riandy Shane Hardi, Yocky Supriadi, MA Rody Candera, Andri Boy Susdian, Zulfadli, Hardy The, Hendrawan Aprilia Ashari, Wiwit Oetama, Suherman, Ata Supriyatna dan Endang Sunandar.

Terakhir, terima kasih kepada partner saya; Rusdi Soetioso, Ferdy Candra, Ronny Setio dan Fredy Candra

Semoga segala upaya kita ini akan membuahkan hasil yang dapat bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Sertifikat Komodo Borneo untuk perangkat Access Point yang menggunakan dua radio :

Sertifikat Komodo Borneo

Sertifikat Komodo Bali untuk perangkat client dari Access Point :

Sertifikat Komodo Bali

Mendapat sertikasi dari Postel merupakan satu “pecutan” untuk dapat berbuat lebih baik lagi untuk bangsa Indonesia, karena produk yang dihasilkan harus terus dikembangkan dan sebanyak mungkin dimanfaatkan oleh kita semua.

PT Marvel Network Sistem

Visi
Membina tenaga muda Indonesia untuk dapat berperan dalam kemajuan teknologi informasi dan Internet dengan membuat produk yang mampu bersaing di pasar dunia.

Misi
Membuat dan mengembangkan perangkat teknologi informasi dan jaringan komputer yang terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Mengajak semua komunitas untuk dapat membangun sistem yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

 

Bogor, 7 November 2007

Satu konsep untuk mengejar ketinggalan akan teknologi informasi (4 dari 4 tulisan)

Michael S. Sunggiardi (michael@sunggiardi.com)

Bagaimana mewujudkan jaringan RT-RW-Net dengan menggunakan perangkat yang murah meriah dan bisa bertahan dalam waktu yang lama ? Pertanyaan ini merupakan tantangan bagi kita semua.

Untuk menyambung ke ISP, penyedia jasa Internet, kita punya beberapa pilihan, misalnya kita bisa menggunakan modem ADSL dengan biaya sekitar 1 juta per bulan, atau bisa menggunakan teknologi wireless yang lebih murah karena tidak perlu membayar langganan pemakaian sirkuit dari PT Telkom.

Jika menggunakan ADSL, kita harus memeriksa kemungkinan pemasangan jaringan ADSL ke Telkom, kemudian membeli modem ADSL dan setelah selesai memasang modem kita bisa mulai membangun RT-RW-Net untuk disambung ke tetangga. Teknologi ADSL memungkinkan kita tetap menggunakan saluran telepon atau menelpon pada saat kita sedang mengakses Internet.

Sambungan ADSL

Investasi untuk membangun titik utama dengan menggunakan ADSL adalah sebagai berikut :

  1. Modem ADSL, harganya bervariasi, sekitar - Rp 500.000,-
  2. Biaya pasang PT Telkom - Rp 500.000,-
  3. Registrasi ke ISP - Rp 100.000,-

Jadi biaya awal pemasangan ADSL sekitar Rp 1.100.000,- dimana kita harus menambahkan biaya pembangunan jaringan yang akan dijelaskan di bagian lain.

Biaya bulanan menggunakan ADSL sekitar Rp 1.000.000,- dan jumlah ini bisa dibagi untuk beberapa tetangga yang menggunakan jaringan ini, sudah tentu dengan kecepatan yang terbatas, hanya 32Kbps untuk akses keluar dan 512Kbps untuk masuk ke jaringan kita. Jika kita dapat mengumpulkan 6 orang tetangga dekat, maka biaya bulanannya menjadi hanya sekitar Rp 170.000,- saja.

Pilihan lainnya yaitu dengan menggunakan teknologi wireless LAN yang mengikuti standar IEEE, yaitu organisasi insinyur di seluruh dunia yang membuat berbagai standar teknis.

Standar yang dikenal dengan sebutan 802.11b/g ini memungkinkan kita untuk menyambung dua tempat yang jaraknya sekitar 8 km dengan menggunakan udara sebagai media distribusi sinyalnya.

Sambungan Wireless LAN

Kelemahan sistem ini adalah sering terjadinya interferensi antara perangkat yang sama, karena semua orang bisa membeli dan memasang dengan mudah perangkat ini. Rincian biayanya adalah sebagai berikut :

  1. Dua buah perangkat 802.11b yang dilengkapi dengan antena external, anti petir, pig tail - Rp 7.000.000,-
  2. Pembangunan tower jika memang dibutuhkan, biasanya sekitar Rp 5.000.000,-

Biaya ini bisa ditekan lagi jika dalam arah yang sama kita menggunakan satu radio di base station-nya, dalam hal ini biaya total yang Rp 12.000.000,- bisa menjadi Rp 7.000.000,-

Biaya bulanan menggunakan layanan wireless LAN ini bervariasi, paling murah sekitar Rp 1.000.000,- per bulan, sehingga kalau dibagi dengan 6 tetangga, setiap rumahnya hanya membayar sekitar Rp 170.000,-

Setelah sambungan Internet masuk ke satu rumah, langkah selanjutnya adalah membangun infrastruktur ke tetangga, dalam bentuk kabel UTP (Unshielded Twisted Pair, kabel yang berisi 8 buah dan dipakai untuk jaringan komputer/LAN) yang bisa dipasang dalam jarak maksimum 100 meter. Untuk menghindari panas, hujan atau tikus, sebaiknya kabel ini dimasukan ke pipa paralon yang dipasang dari rumah ke rumah, sehingga bisa lebih tahan lama.

Sinyal yang dari ISP atau Telkom biasanya dalam bentuk konektor RJ-45 UTP (keluar dari modem ADSL atau perangkat wireless LAN), dari konektor ini kita harus membeli satu perangkat yang disebut switch, yang gunanya mendistribusikan sinyal Internet ke semua tempat.

Switch 8 port

Switch yang kita pakai terdiri dari 8 port, artinya kita bisa menyambung delapan perangkat ke dalam switch ini, maksimal bisa menyambung 6 rumah ke dalam satu switch, sementara dua port yang masih kosong kita sambung ke perangkat akses seperti modem ADSL atau wireless LAN, dan yang satunya untuk kita sambung ke switch lain jika ada tambahan tetangga yang mau ikut dalam jaringan RT-RW-Net yang kita buat.

Untuk sambungan dari rumah ke rumah, sebaiknya dipasang diluar rumah dekat jalan, tetapi jangan digantung diatas, karena mengganggu pemandangan, disamping dilarang oleh PLN dan Telkom. Tempat yang paling sesuai adalah pinggir got yang ada di depan rumah, supaya tidak dipotong PLN atau Telkom, juga tidak digigit tikus.

Pipa paralon sepanjang got

Perkiraan biaya untuk pembangunan jaringan ke tetangga adalah sebagai berikut :

  1. Switch 8 port - Rp 400.000,-
  2. Kabel UTP 1.000 ft (333 meter) - Rp 700.000,-
  3. Konektor dan pipa paralon untuk 6 rumah - Rp 1.200.000,-
  4. Biaya pasang untuk 6 rumah - Rp 900.000,-

Jumlah biaya penyambungan ke rumah-rumah adalah Rp 3.200.000,- yang jika kita jumlahkan dengan biaya akses ke ISP atau ke ADSL menjadi sekitar 4 juta untuk ADSL dan 15 juta untuk wireless LAN. Biaya ini dibagi rata ke setiap rumah yang akan ikutan untuk masuk ke jaringan RT-RW-Net, maksimal sekitar 2,5 juta Rupiah untuk setiap rumah.

Memang kedengarannya masih menakutkan, karena masih berbunyi jutaan, tetapi sekali kita berinvestasi selanjutnya kita bisa memanfaatkan sarana untuk bisa bersaing dalam era globalisasi ini.

Catatan : harga-harga bukan mutlak dan dapat berubah berdasarkan permintaan pasar

end of article

Satu konsep untuk mengejar ketinggalan akan teknologi informasi (3 dari 4 tulisan)

Michael S. Sunggiardi (michael@sunggiardi.com)

Dua tulisan tentang RT-RW-Net hanya membahas latar belakang dan konsep yang ingin diterapkan dalam pembangunan RT-RW-Net, sementara dua tulisan berikutnya adalah cara praktis untuk membangun RT-RW-Net di sekitar kita dengan usaha sendiri dan bersama-sama tetangga.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menggalang tetangga untuk ikut membangun RT-RW-Net, tanya-tanya ke tetangga kiri, kanan, belakang kiri, belakang kanan dan belakang (totalnya enam rumah), karena enam rumah ini dapat diakomodasi oleh switch yaitu perangkat pembagi sinyal Internet yang terdiri dari 8 port. Jika sudah ada enam rumah yang akan disambung ke Internet, kita akan lebih mudah melakukan instalasinya, kalau kurang dari enam, sebaiknya meyakinkan dulu tetangga yang ada.

Kesulitan utama pembangunan RT-RW-Net adalah jumlah orang (peserta RT-RW-Net) yang tidak bisa kita pastikan, terkadang ada tetangga yang awalnya begitu bernapsu untuk nyambung ke Internet dengan jaringan RT-RW-Net, tapi pada saat diminta uangnya, yang bersangkutan pura-pura tidak mengerti dan bisa bilang nanti dulu. Demikian juga rumah-rumah yang tidak ditempati, karena hanya untuk investasi saja atau hanya untuk ditinggali sekali-sekali.

Pemikiran untuk membangun mulai dari 6 rumah adalah dari segi ke praktisan, karena dengan 6 rumah biaya yang harus ditanggung kira-kira : membeli switch atau hub 8 port untuk menyebarkan sinyal Internet harganya sekitar 400 ribu Rupiah, lalu 6 kali kabel sepanjang 30 meter (rata-rata setiap rumah), bisa juga kita beli satu gulung untuk 300 meter, harganya sekitar 700 ribu Rupiah. Konektor dan pipa paralon untuk mencegah dari hujan dan matahari ditambah ongkos pasang membutuhkan biaya sekitar 1,5 juta Rupiah.

Langkah berikutnya adalah mencari akses ke ISP terdekat, baik dengan menggunakan kabel maupun teknologi nirkabel yang lebih murah. Kalau menggunakan kabel, pilihannya hanya sedikit, yaitu menggunakan teknologi dial-up telepon biasa yang tagihannya bisa membengkak setiap saat atau menggunakan saluran ADSL dengan biaya bulanan sekitar satu juta Rupiah.

Kalau kita menggunakan teknologi nirkabel, biaya untuk membeli perangkat nirkabel sekitar 7 juta Rupiah sepasang, dan nilai ini masih harus ditambah dengan pembangunan tower jika memang diperlukan. Ambil saja kita cadangkan 2 juta untuk membangun tower, maka jumlah totalnya menjadi 11 juta Rupiah dan jika dibagi dengan enam rumah, masing-masing harus mengeluarkan biaya sekitar 1,9 juta Rupiah.

Akses ke ISP per bulan biasanya 4 juta Rupiah untuk 64Kbps, maka setiap bulan setiap rumah harus membayar sekitar 700 ribu Rupiah. Jumlah ini akan bisa turun jika pesertanya semakin banyak, karena perangkat nirkabel bisa dibeli sekali saja, sementara setiap bulan iurannya dibayar atas jumlah anggotanya.

Dengan kecepatan 64Kbps dari ISP, secara teoritis bisa melayani 15 komputer, dengan asumsi per komputernya mendapat kecepatan sekitar 4,3Kbps, jauh lebih cepat ketimbang menggunakan dial-up telepon biasa. Angka 4,3Kbps bisa bervariasi, tergantung beban pemakaian, karena kalau ke lima belas komputer semuanya mengakses Internet pada saat yang bersamaan, pasti kecepatannya menjadi lambat, sementara kalau rata-rata per satu saat hanya lima komputer yang mengakses Internet, maka kecepatan rata-rata adalah 13Kbps.

Kecepatan komputer ini sering menjadi perdebatan, karena jika salah satu rumah memiliki komputer Pentium IV dengan kecepatan 1,8GHz, sementara rumah yang lain mempunyai komputer Pentium III dengan kecepatan 600MHz, maka sudah jelas komputer dengan kecepatan tinggi akan lebih cepat mengakses Internet. Selain kecepatan prosessor, jumlah memori (RAM) juga berpengaruh terhadap kecepatan akses Internet.

Gotong royong - Pancasila memang mengilhami pembangunan RT-RW-Net, karena jaringan kebersamaan ini tidak akan bisa berhasil kalau warganya cuek dan tidak tanggap akan teknologi yang ada, apalagi masih banyak yang menolak keberadaan jaringan Internet dengan dalih banyak situs porno dan kekerasan, padahal jika dicermati, situs porno di Internet jumlahnya tidak lebih dari 3%, sementara lainnya berisi informasi yang bisa membawa bangsa kita sejajar dengan bangsa lain.

Dari tiga tahun pengalaman membangun jaringan RT-RW-Net, didapat berbagai pengalaman yang menyenangkan atau menyakitkan, seperti seringnya terjadi sambaran petir ke perangkat yang ada di jaringan RT-RW-Net, sehingga kerusakan membuat akses jaringan Internet menjadi terhambat. Juga masih belum terjangkaunya harga perangkat-perangkat penunjang akses Internet ini, walaupun hari ke hari harganya semakin murah dan semakin banyak fungsinya.

Perangkat nirkabel diharapkan bisa menggantikan perangkat jaringan dengan kabel dalam satu atau dua tahun ke depan, apalagi perangkat rumah sekarang sudah mulai dilengkapi dengan komputer dan jaringan, karena kebutuhan ke arah sana memang sudah ada. Sayangnya, di Indonesia belum bisa diwujudkan, karena infrastrukturnya sendiri masih compang-camping.

end of part three