PT Marvel Network Sistem mewakili
Extricom Inc
55 Broad Street, 10th Floor
New York, NY 10004
akan me-launching produk berkwalitas di dunia WiFi, yang disebut seamless WiFi, yaitu suatu sistem yang mirip dengan GSM tapi dapat men-delivery bandwidth besar dan sangat cocok untuk jaringan enterprise, WiFi Phone atau aplikasi true streaming.
Launching Extricom Indonesia akan diselenggarakan;
Hari Jum’at, tanggal 29 Februari 2008
Pukul 14.00 – 17.00
Bertempat di : Pokè Sushi, Pondok Indah Mall 2
RSVP : Intan, Ratna & Lita - 021-83702808, 021-98883745, 021-92327267, 021-92819258
menampilkan Mark Ellins - Director of Sales for Asia Pacific Extricom yang langsung datang dari Amerika.
Silakan mendaftar gratis ke acara ini, untuk langsung melihat produk WiFi masa depan.
Michael S. Sunggiardi
===============
CTO PT Marvel Network Sistem
Tanggal 6 Februari 2008 yang lalu merupakan kematian Dopod 900 yang sudah saya bawa sejak tiga tahun yang lalu, dan bahkan sudah ikut saya keliling Indonesia.
Dua hari pertama, Senin dan Selasa Dopod 900-nya mati hidup tidak keruan, pagi-pagi masih OK, sorenya sudah mati tidak bisa dinyalakan lagi, kecuali ditekan berulang-ulang hard reset-nya.
Hari ketiga saya terpaksa membeli penggantinya, karena dua hari saya tidak bisa bekerja dengan baik, karena semua nomor telepon, janji-janji dan data-data ada di PDA-nya.
Ini adalah yang kedua kali saya merasa tidak berharga hidup di dunia, karena tidak punya informasi dan data, mau menghubungi orang, tidak ingat nomor teleponnya, mau lihat mesti ngapain, tidak ada catatannya.
Kejadian yang pertamanya, terjadi sewaktu saya ke Sudan di tahun 2003, dimana O2 yang saya bawa mendadak habis batere-nya, dan dengan otomatis menghapus semua data yang ada di dalamnya.
Saya pikir, ini adalah efek negatif dari ketergantungan dengan teknologi, dan memang kita semua tidak akan tahan disuruh menghafal 3400+ data nomor ponsel, lalu harus mengingat janji-janji per harinya.
Bersyukurlah kita semua sudah mendapatkan jawabannya, yaitu dengan menggunakan alat bantu serba guna, sebagai ponsel, sekaligus menyimpan data.

Tytn II di sebelah kanan yang menggantikan Dopod 900 yang sudah bertugas sampai empat tahun
Dopod 900 saya sepertinya hanya rusak di batere-nya saja, tetapi sampai hari ini belum dicoba lagi, karena selama dua minggu ini masih mengkotak-katik HTC Tytn II yang disebut juga Kaiser.
Tytn II menggunakan prosessor Qualcomm 7200 dengan kecepatan 400MHz dan memori RAM 128MB dan Flash 256MB.

Kalau punya barang baru memang excited, ganti themes, ganti icon sampai ganti tampilan waktunya sehingga kelihatannya menyenangkan dan berbeda dengan yang lain.
Tytn II memang keren, kecepatannya lumayan tinggi, kemudian ada fasilitas untuk mengakses Internet melalui jaringan HSDPA di notebook yang tersambung ke USB.
Cukup puas juga saya menggunakan Tytn II, hanya saja, dengan mata yang sudah mulai tua, layarnya terlalu kecil dan karena terbiasa dengan Dopod 900 yang sebesar gajah, terasa barang ini koq kecil amat.
Mudah-mudahan Tytn II ini dapat panjang umurnya seperti Dopod 900 yang tahun ini sebetulnya sudah mencapai usia ke empat, dengan hanya lecet dua kali jatuh, yang menyebabkan sedikit pecah di plastik samping layarnya.
Terima kasih Dopod 900 dan selamat bekerja Tytn II.
Bogor, 21 Februari 2008
Selamat Tahun Baru Imlek 2559 untuk semua teman kerja, kerabat, sobat, famili, keluarga dan saudara ……
Tanggal 7 Februari 2008 adalah Tahun Baru Imlek yang dalam bahasa Mandarin-nya Xin Nian, tahun baru yang dirayakan oleh orang Cina yang tersebar sampai keseluruh pelosok dunia.
Hampir lima puluh tahun saya hidup di bumi Indonesia, walaupun fisik saya seperti orang Cina, tetapi saya tidak bisa berbahasa Cina, dan tidak tau persis sejarah dan kebudayaan Cina, sehingga sepertinya saya tidak punya “pijakan”. Disebut Indonesia, tetapi mata sipit - kulit kuning, disebut Cina tidak dapat bicara Mandarin.
Saya lebih fasih berbahasa Sunda ketimbang bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia saya merupakan bahasa ibu yang sudah dikuasai dengan 100%, termasuk logat, dialek dan seluruh kebudayaannya.
Saya adalah generasi ke tujuh dari kakek buyut yang berasal dari Cina, konon tanah leluhurnya di daerah An Hui, dimana orang Hokian mengembara ke Indonesia untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Tujuh generasi setara dengan 350 tahun, kalau dianggap satu generasi 50 tahun, dan merupakan suatu rekor untuk menetapkan apa sebenarnya warga negara saya.
Ketidak terkaitan saya ke tanah leluhur disebabkan oleh hasil karya Pak Harto selama 32 tahun, yang tidak mengijinkan bahasa Cina disebar luaskan di Indonesia, sehingga kebanyakan teman-teman saya tidak mampu berbicara bahasa Mandarin, yang ternyata hari ini merupakan bahasa dunia setelah bahasa Inggris.
Saya masih ingat pada saat saya berwisata ke New York di tahun 1987, dan ketemu kakek-kakek tua yang sedang menunggu toko kecil di China Town. Beliau menyapa saya dengan bahasa Mandarin, tetapi saya tidak bisa menjawabnya, lalu beliau bertanya lagi “Are you Japanese?”, “Are you Korea?” dan saya menjawab bahwa saya adalah orang dari Indonesia.
“But you look like chinese” kata kakek itu penasaran !
“My great-great grand parent are from China, already seven generation in Indonesia”, jawab saya pe-de, sekaligus menepis ketidak mampuan saya berbahasa Cina.
Secara tidak disangka, sang kakek menjawab dengan sangat pelan dan berintonasi rendah, “You have to remember your root - where ever you are, you are still chinese”.
Saya tidak akan lupa kata-kata ini, makanya sekembalinya saya di Indonesia, saya bertekad untuk belajar bahasa Mandarin, dan setelah sekian bulan kepusingan menulis dan belajar bahasa Mandarin, akhirnya saya menyerah dan mohon maaf ke kakek tua, bahwasanya saya tidak mampu mengikuti petuahnya.
Dua puluh satu tahun kemudian, saya masih tidak dapat bercakap bahasa Mandarin, walaupun fisik saya tidak berubah, tetap kuning dan bermata sipit, dan Tahun Baru Imlek buat saya tidak sesumringah tahun baru internasional (1 Januari), atau bahkan saya merasa lebih meriah disaat Lebaran. Mungkin semuanya karena dibungkem-nya kebudayaan Cina selama puluhan tahun, dan baru dibuka pada saat reformasi.
Biar bagaimanapun, saya PASTI akan disebut orang Cina, karena fisik menunjukan bukti tersebut, dan saya tidak bisa berkelit dari kenyataan, bahwa saya harus mengikuti kebudayaan dan tradisi Cina, walaupun semua bagian tubuh saya sudah seratus persen bangsa Indonesia !
Selamat Tahun Baru Imlek untuk semua yang kebetulan mampir di tempat ini.
Bogor, 7 Februari 2008