Selamat Tahun Baru Imlek 2559 untuk semua teman kerja, kerabat, sobat, famili, keluarga dan saudara ……
Tanggal 7 Februari 2008 adalah Tahun Baru Imlek yang dalam bahasa Mandarin-nya Xin Nian, tahun baru yang dirayakan oleh orang Cina yang tersebar sampai keseluruh pelosok dunia.
Hampir lima puluh tahun saya hidup di bumi Indonesia, walaupun fisik saya seperti orang Cina, tetapi saya tidak bisa berbahasa Cina, dan tidak tau persis sejarah dan kebudayaan Cina, sehingga sepertinya saya tidak punya “pijakan”. Disebut Indonesia, tetapi mata sipit - kulit kuning, disebut Cina tidak dapat bicara Mandarin.
Saya lebih fasih berbahasa Sunda ketimbang bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia saya merupakan bahasa ibu yang sudah dikuasai dengan 100%, termasuk logat, dialek dan seluruh kebudayaannya.
Saya adalah generasi ke tujuh dari kakek buyut yang berasal dari Cina, konon tanah leluhurnya di daerah An Hui, dimana orang Hokian mengembara ke Indonesia untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Tujuh generasi setara dengan 350 tahun, kalau dianggap satu generasi 50 tahun, dan merupakan suatu rekor untuk menetapkan apa sebenarnya warga negara saya.
Ketidak terkaitan saya ke tanah leluhur disebabkan oleh hasil karya Pak Harto selama 32 tahun, yang tidak mengijinkan bahasa Cina disebar luaskan di Indonesia, sehingga kebanyakan teman-teman saya tidak mampu berbicara bahasa Mandarin, yang ternyata hari ini merupakan bahasa dunia setelah bahasa Inggris.
Saya masih ingat pada saat saya berwisata ke New York di tahun 1987, dan ketemu kakek-kakek tua yang sedang menunggu toko kecil di China Town. Beliau menyapa saya dengan bahasa Mandarin, tetapi saya tidak bisa menjawabnya, lalu beliau bertanya lagi “Are you Japanese?”, “Are you Korea?” dan saya menjawab bahwa saya adalah orang dari Indonesia.
“But you look like chinese” kata kakek itu penasaran !
“My great-great grand parent are from China, already seven generation in Indonesia”, jawab saya pe-de, sekaligus menepis ketidak mampuan saya berbahasa Cina.
Secara tidak disangka, sang kakek menjawab dengan sangat pelan dan berintonasi rendah, “You have to remember your root - where ever you are, you are still chinese”.
Saya tidak akan lupa kata-kata ini, makanya sekembalinya saya di Indonesia, saya bertekad untuk belajar bahasa Mandarin, dan setelah sekian bulan kepusingan menulis dan belajar bahasa Mandarin, akhirnya saya menyerah dan mohon maaf ke kakek tua, bahwasanya saya tidak mampu mengikuti petuahnya.
Dua puluh satu tahun kemudian, saya masih tidak dapat bercakap bahasa Mandarin, walaupun fisik saya tidak berubah, tetap kuning dan bermata sipit, dan Tahun Baru Imlek buat saya tidak sesumringah tahun baru internasional (1 Januari), atau bahkan saya merasa lebih meriah disaat Lebaran. Mungkin semuanya karena dibungkem-nya kebudayaan Cina selama puluhan tahun, dan baru dibuka pada saat reformasi.
Biar bagaimanapun, saya PASTI akan disebut orang Cina, karena fisik menunjukan bukti tersebut, dan saya tidak bisa berkelit dari kenyataan, bahwa saya harus mengikuti kebudayaan dan tradisi Cina, walaupun semua bagian tubuh saya sudah seratus persen bangsa Indonesia !
Selamat Tahun Baru Imlek untuk semua yang kebetulan mampir di tempat ini.
Bogor, 7 Februari 2008