Published Feb 21, 2008 in Umum

Tanggal 6 Februari 2008 yang lalu merupakan kematian Dopod 900 yang sudah saya bawa sejak tiga tahun yang lalu, dan bahkan sudah ikut saya keliling Indonesia.

Dua hari pertama, Senin dan Selasa Dopod 900-nya mati hidup tidak keruan, pagi-pagi masih OK, sorenya sudah mati tidak bisa dinyalakan lagi, kecuali ditekan berulang-ulang hard reset-nya.

Hari ketiga saya terpaksa membeli penggantinya, karena dua hari saya tidak bisa bekerja dengan baik, karena semua nomor telepon, janji-janji dan data-data ada di PDA-nya.

Ini adalah yang kedua kali saya merasa tidak berharga hidup di dunia, karena tidak punya informasi dan data, mau menghubungi orang, tidak ingat nomor teleponnya, mau lihat mesti ngapain, tidak ada catatannya.

Kejadian yang pertamanya, terjadi sewaktu saya ke Sudan di tahun 2003, dimana O2 yang saya bawa mendadak habis batere-nya, dan dengan otomatis menghapus semua data yang ada di dalamnya.

Saya pikir, ini adalah efek negatif dari ketergantungan dengan teknologi, dan memang kita semua tidak akan tahan disuruh menghafal 3400+ data nomor ponsel, lalu harus mengingat janji-janji per harinya.

Bersyukurlah kita semua sudah mendapatkan jawabannya, yaitu dengan menggunakan alat bantu serba guna, sebagai ponsel, sekaligus menyimpan data.

Kaiser dengan Dopod 900

Tytn II di sebelah kanan yang menggantikan Dopod 900 yang sudah bertugas sampai empat tahun
Dopod 900 saya sepertinya hanya rusak di batere-nya saja, tetapi sampai hari ini belum dicoba lagi, karena selama dua minggu ini masih mengkotak-katik HTC Tytn II yang disebut juga Kaiser.

Tytn II menggunakan prosessor Qualcomm 7200 dengan kecepatan 400MHz dan memori RAM 128MB dan Flash 256MB.

Screen Capture Tytn II

Kalau punya barang baru memang excited, ganti themes, ganti icon sampai ganti tampilan waktunya sehingga kelihatannya menyenangkan dan berbeda dengan yang lain.

Tytn II memang keren, kecepatannya lumayan tinggi, kemudian ada fasilitas untuk mengakses Internet melalui jaringan HSDPA di notebook yang tersambung ke USB.

Cukup puas juga saya menggunakan Tytn II, hanya saja, dengan mata yang sudah mulai tua, layarnya terlalu kecil dan karena terbiasa dengan Dopod 900 yang sebesar gajah, terasa barang ini koq kecil amat.

Mudah-mudahan Tytn II ini dapat panjang umurnya seperti Dopod 900 yang tahun ini sebetulnya sudah mencapai usia ke empat, dengan hanya lecet dua kali jatuh, yang menyebabkan sedikit pecah di plastik samping layarnya.

Terima kasih Dopod 900 dan selamat bekerja Tytn II.

Bogor, 21 Februari 2008