Tanggal 6 Februari 2008 yang lalu merupakan kematian Dopod 900 yang sudah saya bawa sejak tiga tahun yang lalu, dan bahkan sudah ikut saya keliling Indonesia.
Dua hari pertama, Senin dan Selasa Dopod 900-nya mati hidup tidak keruan, pagi-pagi masih OK, sorenya sudah mati tidak bisa dinyalakan lagi, kecuali ditekan berulang-ulang hard reset-nya.
Hari ketiga saya terpaksa membeli penggantinya, karena dua hari saya tidak bisa bekerja dengan baik, karena semua nomor telepon, janji-janji dan data-data ada di PDA-nya.
Ini adalah yang kedua kali saya merasa tidak berharga hidup di dunia, karena tidak punya informasi dan data, mau menghubungi orang, tidak ingat nomor teleponnya, mau lihat mesti ngapain, tidak ada catatannya.
Kejadian yang pertamanya, terjadi sewaktu saya ke Sudan di tahun 2003, dimana O2 yang saya bawa mendadak habis batere-nya, dan dengan otomatis menghapus semua data yang ada di dalamnya.
Saya pikir, ini adalah efek negatif dari ketergantungan dengan teknologi, dan memang kita semua tidak akan tahan disuruh menghafal 3400+ data nomor ponsel, lalu harus mengingat janji-janji per harinya.
Bersyukurlah kita semua sudah mendapatkan jawabannya, yaitu dengan menggunakan alat bantu serba guna, sebagai ponsel, sekaligus menyimpan data.

Tytn II di sebelah kanan yang menggantikan Dopod 900 yang sudah bertugas sampai empat tahun
Dopod 900 saya sepertinya hanya rusak di batere-nya saja, tetapi sampai hari ini belum dicoba lagi, karena selama dua minggu ini masih mengkotak-katik HTC Tytn II yang disebut juga Kaiser.
Tytn II menggunakan prosessor Qualcomm 7200 dengan kecepatan 400MHz dan memori RAM 128MB dan Flash 256MB.

Kalau punya barang baru memang excited, ganti themes, ganti icon sampai ganti tampilan waktunya sehingga kelihatannya menyenangkan dan berbeda dengan yang lain.
Tytn II memang keren, kecepatannya lumayan tinggi, kemudian ada fasilitas untuk mengakses Internet melalui jaringan HSDPA di notebook yang tersambung ke USB.
Cukup puas juga saya menggunakan Tytn II, hanya saja, dengan mata yang sudah mulai tua, layarnya terlalu kecil dan karena terbiasa dengan Dopod 900 yang sebesar gajah, terasa barang ini koq kecil amat.
Mudah-mudahan Tytn II ini dapat panjang umurnya seperti Dopod 900 yang tahun ini sebetulnya sudah mencapai usia ke empat, dengan hanya lecet dua kali jatuh, yang menyebabkan sedikit pecah di plastik samping layarnya.
Terima kasih Dopod 900 dan selamat bekerja Tytn II.
Bogor, 21 Februari 2008
itu jatoh dua kali termasuk yg disebabkan sama saya gak beh yg di bandung tea ??
mohon maaf kalo saya punya salah, semoga arwahnya diterima disisi saya dengan senang hati :p
Yah betul sekali - plus satu lagi sewaktu di Indocement, sampai lecet-lecet !
Michael
pensiun juga akhirnya… ga kaya pda saya yang kotak.. hiihhihihi
Turut beduka cita atas kematian Dopodnya
Btw, Opa termasuk apik juga, 3 tahun make baru 2 kali jatoh. Kalau saya sehari bisa 2 kali jatuh, he. he.
Mas Randi,
PDA kotak itu maksudnya komputer ? …. hehehe.
Michael
Pak Imam,
Terima kasih atas ucapannya ….
Yah saya hati-hati sekali bawa DoPod 900 itu, dan memang alhamdulillah sudah “terlatih” bawa barang besar yang fragile, sejak saya pakai XDA O2 di tahun 2002-an.
Michael
Opa, kok ga pake O2 Flame aja?
Khan sama2 “king size” hehehe
Berkurang satu deh saingan O2 Exec saya
Deni
Udah cape bawa PDA gede-gede, lagian spek-nya nggak jauh berbeda dengan HTC Kaiser, jadi mending beli yang kecil ajah deh …
Enak kan saingannya kalah …. hehehehe
Michael
Bukan opa… PDA yang kotak.. zaurus.. hehe..
Wow …. wakakakakak … Randi bikin nostalgia.
Michael