Itu kira-kira kesimpulan yang Opa dapat selama 26 tahun berbisnis komputer, dimulai dari karir Opa menjadi teknisi perusahaan besar, lalu pengecer kecil, pengecer menengah, pengecer besar, dealer kecil, dealer besar, distributor, importir, pemain proyek, kontraktor, pengajar teknologi di perguruan tinggi, pelaksana seminar dan workshop skala nasional, kontraktor internasional, sampai akhirnya terdampar menjadi pengembang teknologi.

Memang menyakitkan kalau melihat dasar-dasar undang-undang Indonesia dibangun dari rekaan perusahaan dagang Belanda di abad ke 17, VOC (Verenigde Oostindische Compagnie).

Dampak terhadap UU yang dibuat berdasarkan jiwa dagang menjadi suatu kenyataan pahit yang harus kita hadapi saat ini, dimana semua kelakuan dan perbuatan, didasarkan pada UUD, bukan Undang Undang Dasar, tetapi Ujung Ujungnya Duit.

Pejabat pada saat mau “naik tahta”, harus menyiapkan sejumlah uang untuk mendapatkan kedudukannya, akibatnya, yang bersangkutan harus mendapatkan kembali uang yang sudah keluar (istilah keren-nya balik modal), baik yang berasal dari kantong sendiri, maupun yang pinjam kiri-kanan.

Proses pengembalian modal bisa terdiri dari dua macam, yang santai-santai saja, atau yang grasak-grusuk menyikat semua pihak, sehingga mempengaruhi kelakuan bangsa Indonesia secara keseluruhan, yaitu selalu berusaha untuk MEMBUNUH pesaing.

Tidak ada lagi usaha untuk memberikan yang terbaik ke pelanggan atau rekanan, tetapi tujuannya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan segala cara, termasuk membunuh pesaingnya.

Model pejabat dan pemerintahan yang bermental “balik modal” dan “membunuh pesaing” menjalar terus ke masyarakat luas, karena mereka semua merupakan bagian dari bangsa yang besar, bangsa Indonesia.

Yang pandai selalu berusaha memperbodoh semuanya, sementara yang bodoh juga tidak habis akal dengan berlaga lebih bodoh lagi untuk bisa mendapatkan hasil dari semua usahanya, karena kalau mereka berlagak pinter di depan yang pinter, pasti akan segera dibunuh.

Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa terlalu banyak “orang pinter” di Indonesia, dan “orang pinter” ini kebanyakan tidak kreatif, sehingga seringkali melakukan usaha yang sama dan akhirnya saling membunuh.

Lingkungan yang amburadul ini juga menyebabkan banyak “membangunkan anak macan buas”, dimana analogi dengan kebanyakan manusia Indonesia, awalnya mereka sangat penurut, penuh pengabdian dan mau kerja apa saja, tetapi begitu sadar bahwa tidak semua orang punya kemampuan seperti dia, maka berubahlah anak macan menjadi macan buas yang siap menerkam majikan atau orang yang memeliharanya dari kecil.

Kenyataan yang sulit untuk mendapatkan tenaga akhli yang punya etika bisnis yang baik, karena kebanyakan akan menjadi “buas” pada saat menyadari dirinya bisa berdiri sendiri.

Rekan-rekan saya di Apkomindo (asosiasi perusahaan komputer Indonesia) paling sering mengalami hal ini, sampai ada yang dijuluki punya perguruan tinggi akhli komputer, karena jebolan perusahaannya semuanya rata-rata menjadi pengusaha yang sukses.

Dan ini yang menjadikan kenyataan menjamurnya pengusaha komputer di Jakarta (bayangkan ada sekitar 10-an sentra bisnis komputer di Jakarta, masing-masing ada sekitar 200-an pengusaha komputer besar-kecil).

Dalam organisasi, kejadian yang sama juga terjadi, awalnya pengurus dan anggota jalan bareng untuk mendapatkan hasil secara bersama-sama, tetapi di tengah jalan, salah satu atau salah dua dari anggota “menyeberang” jalan sendiri, karena sudah melihat ada uangnya, dan dengan segala kedigjayaannya, yang bersangkutan meninggalkan organisasi yang sudah terpecah belah tidak karuan.

Saya juga sedih melihat kenyataan banyaknya “orang pinter” di Indonesia yang tidak memiliki etika yang baik, walaupun rata-rata dari mereka mempunyai keyakinan agama yang cukup baik, tetapi berperilaku bukan seperti orang yang beragama dan ber-etika.

Dalam posisi saya sebagai tenaga akhli, sering kali saya masuk ke satu proyek bukan dengan nama perusahaan saya, tetapi sebagai kontraktor atau pelaksana lapangan, dan ini sering kali menjadi bulan-bulanan si perusahaan utama, dengan berbagai dalih membohongi dan memungkiri semua janji-janji yang sudah disepakati. Semua terjadi karena memang sang kontraktor utama juga di”kadal”in oleh pimpinan proyek dan mata rantai itu akhirnya balik ke kita semua.

Saya tidak punya solusi menghadapi semua kejadian ini, hanya saja selalu berharap agar bisa menjalankan bisnis dengan sebaik-baiknya, jujur ke semua orang dan berharap mendapat berkat yang halal dan baik dari segala upaya yang sudah dilakukan.

Rasanya, kita harus menunggu generasi penerus yang berbudi luhur serta berpengetahuan tinggi, mau sharing dan ber-etika baik. Tapi kalau melihat kenyataan kesulitan hidup saat ini, dimana pendidikan menjadi kacau balau, rasanya baru menjadi kenyataan setelah generasi di bawahnya yah ?

Bogor, 22 Maret 2008