Tanggal 31 Maret 2008 yang baru lalu merupakan hari yang bersejarah buat Opa, karena selain ulang tahun istri Opa, pada hari yang sama, Opa menutup kegiatan Batutulis Computer di Bogor.
Batutulis Computer yang sudah berusia 26 tahun ditutup karena sudah tidak ada lagi tenaga yang bersedia menangani usaha tersebut, disamping jenis bisnisnya yang sudah tidak relevan lagi dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat dan boleh dibilang edan.
Batutulis Computer dibentuk dari kelompok kawan-kawan Opa di Trisakti, Harry Tanujaya (saat ini masih menjalankan bisnis komputer dibawah nama PT Batutulis Graha Komputronika di Kelapa Gading), Leonard Sangkaen (pengusaha supermarket di Kebun Jeruk), Gunadi Kurniawan (senior engineer Schlumberger di Jepang) - dan pada saat itu kami merupakan teknisi handal untuk memperbaiki perangkat komputer Apple II+ atau Sinclair ZX-81.
Perjalanan Batutulis Computer memang lumayan menakjubkan, karena sejak pertengahan 1986 merupakan trend setter dunia komputer di Bogor dan Jakarta, apalagi dengan dibentuknya Klub Komputer Batutulis Bogor dan Pangkalan PISI yang bermarkas di gedung Gramedia Pal Merah.
Di Bogor sendiri, Batutulis Computer sangat terkenal dengan toko komputer yang lengkap, dan melayani sebagian besar orang asing, mulai dari Australia, Jepang, Amerika, Inggris dan lainnya. USAID, Australian Project dan berbagai proyek bantuan asing ke Indonesia dibantu oleh Batutulis Computer untuk pengadaan perangkatnya.
Usaha komputer mulai menurun sejak krisis ekonomi di tahun 1998, dimana harga konversi dolar Amerika menjadi amat gila.
Batutulis Computer terkena dampaknya secara langsung dan mulai dari awal tahun 2000, menjual komputer tidak lagi merupakan hal yang masuk akal, karena dengan profit hanya 3%, kita harus melayani purna jual selama 12 bulan, dan itupun dengan segala resiko yang harus dihadapi, termasuk konversi dolar yang tidak menentu, menyebabkan keuntungan yang juga tidak menentu.
Opa sendiri sudah keluar dari bisnis komputer dari tahun 1995, pada saat mulai membangun ISP BoNet di Bogor, sehingga dampak-dampak usaha komputer tersebut tidak dirasakan menyulitkan, karena sejak krisis ekonomi, seluruh operasi toko komputer tersebut diserahkan ke tim yang sudah bekerja puluhan tahun di Batutulis Computer.
Mempertahankan Batutulis Computer semata-mata mempertahankan seluruh tim yang bekerja disana, karena kasihan juga mereka tidak mempunyai pilihan lain untuk mencari pekerjaan di era dunia usaha yang serba susah ini.
Akhirnya, pada saat Opa tidak mendapatkan dukungan untuk tetap mempertahankan Batutulis Computer, baik dari partner maupun dari tim yang menjalankan bisnisnya, sehingga keputusan yang sangat susah ini akhirnya harus dijalankan juga, demi kebaikan bersama.
Terima kasih kepada seluruh pelanggan dan rekan-rekan yang turut membantu mengembangkan Batutulis Computer dari tahun awalnya dan mohon maaf kalau Batutulis Computer mengecewakan semuanya, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Bogor, 1 April 2008