Hari Minggu ini, saya sekeluarga jalan-jalan ke Grand Indonesia, tujuannya mengantar istri dan anak-anak untuk beli “tetek bengek”, dan sampailah saya di satu counter yang lumayan mewah di pertokoan yang termasuk paling hebat di Jakarta.
Sementara istri saya ngobrol dengan SPG-nya, saya melirik ke satu notebook yang diletakan di semacam meja kecil, dengan kertas yang berserakan.
Hebat sekali sekarang yah … counter yang berada di pertokoan sudah dilengkapi dengan notebook, sehingga penggunaan komputer desktop sudah tidak jaman lagi, dan pantas jumlah notebook yang beredar di Indonesia sudah semakin besar ketimbang komputer desktop.

Memang hebat yah sistem keamanan komputer kita !
Dalam meja kecil yang berbentuk “cashier” dan berserakan kertas-kertas berisi laporan dan tugas kerja, saya terhentak juga ketika melihat di samping notebook yang canggih tersebut, ada satu sticker yang dilaminating supaya jangan rusak …. dan masyaallah …. sticker tersebut berisi Username dan Password untuk bisa mengakses komputernya.
Langsung saja tangan saya memotret notebook tersebut, sehingga dapat ditayangkan di Celotehan Opa Michael (diberi lingkaran biru adalah sticker Username dan Password).
Lima tahunan yang lalu, saya pernah menulis artikel di satu penerbitan, yang juga mengritik satu perusahaan travel besar di daerah kota, yang menempel Username dan Password di tembok, sehingga seluruh pelanggan dapat melihat informasi tersebut dengan mudah.
Dari sini dapat diambil kesimpulan, bahwasanya pemanfaatan komputer dengan tingkat keamanan yang tinggi masih belum dimengerti oleh personalnya, karena yang selalu disalahkan adalah mesin dan sistemnya, padahal yang selalu membuat lubang dan masalah adalah manusianya.
Mari kita kampanyekan “keamanan komputer” dengan menghindari hal-hal kecil seperti yang saya lihat, supaya tidak terjadi perdebatan yang berkelanjutan, yang berhubungan dengan keamanan komputer antara pemilik perusahaan dan bagian EDP atau komputer.
Bogor, 15 Februari 2009
Di tahun 2004, saya dikontak oleh rekan dari Compex untuk mencoba memasarkan produk unggulan IP3, yaitu authentication device untuk HotSpot atau hotel-hotel.
Datanglah orang IP3 dari Hongkong, namanya Kitty dan menawarkan kerja sama dengan perusahaan saya untuk memasarkan produk-produknya di Indonesia, karena saat itu, selama satu tahun, barangnya hanya laku dijual sekitar lima unit di ISP dan hotel bintang lima.
Selanjutnya, saya membuat satu program roadshow ke 5 kota, untuk memperkenalkan IP3 dan dari perjalanan tersebut, ternyata lumayan berhasil dan meningkatkan penjualan menjadi sekitar 20-an unit untuk kurun waktu yang hanya sekitar enam bulan.
Hanya saja, sayang sekali, Kitty pindah ke Amerika sehingga sulit berkomunikasi dan menyebabkan mandegnya suplai dari Amerika, dan ahir tahun 2004 saya memutuskan untuk menghentikan penjuaan IP3.
Tiga bulan setelah saya menghentikan penjualan IP3, perusahaan IP3 di Amerika dijual dan dibeli oleh Second Rule LLC, sampai ahirnya, saya lihat lagi web-nya seperti di bawah ….

Web IP3 yang menyatakan bahwa IP3 ditutup karena “perdebatannya” dengan Nomandix (untuk melihat lebih besar gambar ini, silakan di klik tombol mouse sebelah kanan, lalu View Image
Cukup menyedihkan yah, punya perusahaan bagus, produknya keren, tapi tidak dapat melewati masa sulit dengan sebaik-baiknya.
Semoga saja ini menjadi referensi, bahwa dalam bisnis, kita seperti di dalam orkestra, yaitu harus merangkul semua alat musik, supaya nyanyiannya dapat bagus dan tidak sumbang.
Bogor 12 Februari 2009
Sekedar info saja, bahwa ternyata “dendam” Hendrawan terhadap perusahaan yang tidak manusiawi menjalar ke “dendam” ke pribadi Opa Michael.
Entah betul atau tidak, tetapi ada komentar seperti di screen capture di bawah ini, di link http://mikesgd00.wordpress.com/2008/03/02/wimax-ogah-ah/ yang sampai hari ini belum Opa approve, karena sudah ditanya ke email yang bersangkutan, apa keinginan Hendrawan yang hebat itu ?

Posting comment di web Opa yang sampai hari ini belum di approve (klik tombol kanan mouse, lalu View Image untuk melihat lebih besar)
Sampai hari ini belum dijawab dan entah akan dijawab atau tidak !
Saya sih berharap, mudah-mudahan saja Hendrawan di sadarkan akan perbuatan dan etikanya yang sangat buruk, walaupun kelihatan secara fisik orang baik-baik dan mau berbagi ilmu, seperti yang diperlihatkan di blog-nya.
Bogor, 8 Februari 2009