Satu konsep untuk mengejar ketinggalan akan teknologi informasi (1 dari 4 tulisan)

Michael S. Sunggiardi (michael@sunggiardi.com)

Sejak Internet diperkenalkan di Bogor 1 Juli tahun 1995 oleh PT BoNet Utama, perkembangan pemakai dan pelanggannya sangat lambat sekali. Dari pertengahan tahun 1995 sampai akhir 1995, jumlah pelanggannya hanya sekitar 100 orang saja, padahal prediksi yang dilakukan oleh penulis cukup meyakinkan.

Foto RT-RW-Net di Bogot

Dengan asumsi 10.000 mahasiswa IPB di tahun 1995, diambil 1%-nya, didapatkan angka 100 pelanggan dari mahasiswa, kemudian dosen IPB terdiri dari sekitar 3.000 pada tahun tersebut, orang asing di Bogor jumlahnya sekitar 800 dan perusahaan menengah keatas sekitar 200, ditambah dengan masyarakat umum yang totalnya didapat angka sekitar 1.000 pelanggan yang sudah pasti membutuhkan akses Internet.

Angka 1.000 baru dicapai pada tahun 1998, setelah tiga tahun beroperasi, karena banyak sekali masalah yang terjadi sejak penulis berusaha untuk memperkenalkan Internet ke masyarakat Bogor.

Bolak balik seluruh tim BoNet berusaha untuk memasyarakatkan pemakaian Internet, dengan cara melakukan seminar dan pengenalan Internet dengan gencar, tetapi penambahan pemakai Internet masih jauh dari harapan. Dari populasi sekitar 800.000 penduduk Bogor, pelanggan Internet sampai hari ini tidak lebih dari 8.000 saja, hanya 1% dari populasi, sementara kalau kita melihat negara tetangga Singapura, pemakai Internetnya sudah lebih dari setengah penduduknya.

Ada beberapa kesulitan yang dialami untuk meningkatkan pemakai Internet, pertama masih mahalnya akses Internet, ditambah mahalnya penggunaan jaringan telepon lokal, kedua, infrastruktur yang ada belum bisa memenuhi kebutuhan pemakaian Internet, ketiga kendala bahasa yang masih mengganggu penggunaan Internet dan komputer dan terakhir daya beli masyarakat untuk membeli komputer yang sangat rendah.

Dari empat kendala tersebut, dua kendala terakhir sudah bisa diatasi, walaupun tidak secara menyeluruh, yaitu dengan memberdayakan warnet (warung Internet), dimana kendala bahasa dan “beli komputer” bisa dipecahkan. Dengan masuk ke warnet, kita bisa belajar ke penjaganya, sekaligus tidak perlu membeli komputer untuk mengakses Internet.

Sayangnya, bisnis warnet yang boom sekitar tahun 1999 - 2001, rontok karena dirusak oleh pengusaha yang”oportunitis” dan tidak punya pengetahuan yang cukup. Bisnis warnet hancur karena semua pengusahanya mempunyai cara yang sama dalam pengelolaan warnet, sehingga akhirnya mereka membanting harga dan tidak bisa melangsungkan roda bisnisnya.

Awal tahun 1999, penulis bersama DR. Onno W. Purbo, mantan dosen ITB yang terkenal dilingkungan pemakai komputer dan Internet, melakukan perjalanan roadshow seminar tentang Warung Internet di beberapa kota besar, dan dari diskusi dengan berbagai lapisan masyarakat di beberapa kota tersebut, akhirnya lahir konsep RT-RW-Net yang dikembangkan dari warnet.

Pada saat yang sama, penulis yang baru pindah kembali ke Baranangsiang Indah mempunyai masalah dalam mengakses Internet, karena jalur teleponnya sering putus dan lambat aksesnya. Dengan memberanikan diri, akhirnya dipasang saluran leased channel dari Telkom, yaitu sambungan koneksi Internet dari kantor BoNet yang berada di Pajajaran ke perumahan Baranangsiang Indah.

Saluran leased channel ini menggunakan saluran telepon nganggur yang ada di rumah tetangga penulis, dan dengan kesepakatan bersama, akhirnya dibangun satu jaringan dalam satu blok, terdiri dari tiga rumah yang berdekatan, salah satunya memang sudah ada warnet dengan menggunakan dial-up biasa.

Harga aksesnya dibuat murah, karena memang tidak memikirkan bisnis, lebih kepada mencoba konsep yang waktu itu belum diberi nama. Ketiga rumah sangat puas mendapatkan akses Internet yang murah dan cepat, sehingga beberapa bulan kemudian, tetangga di belakang penulis minta untuk bergabung.

Kesulitan utama pembangunan jaringan RT-RW-Net ini adalah jumlah pelanggannya yang masih terlalu sedikit, sehingga hasil iurannya belum bisa menutupi biaya operasi keseluruhan. Satu saluran Internet dengan kecepatan 64Kbps yang hanya bisa dipakai oleh 10 komputer, harganya sekitar empat juta Rupiah setiap bulannya.

Jika jumlah pemakainya belum mencapai 10, maka jumlah biaya gotong royong yang harus ditanggung bisa lebih mahal dari empat ratus ribu sebulan, sementara kalau lebih dari 10 mau tidak mau ada masalah dengan kecepatan aksesnya. Mau tidak mau memang kita harus mengambil resiko, yaitu dengan memperbesar rasio dari pengguna, supaya biayanya menjadi murah.

Dengan target rasio 1:2, artinya, kecepatan 64Kbps yang biasanya dipakai oleh 10 komputer, dipaksakan untuk dipakai 20 komputer, maka bisa didapatkan biaya yang lebih terjangkau, yaitu sekitar 200 ribu Rupiah setiap bulannya. Asumsi rasio 1:2 ini memang belum tentu memuaskan pemakainya, tetapi melihat pengalaman yang dialami selama ini, sepertinya angka ini bisa dipakai untuk mulai memperkenalkan akses Internet dengan kecepatan tinggi atau istilah yang sering dipakai, Internet Broadband Access.

Jika pelanggan atau pemakainya bertambah, maka rasionya bisa lebih ditingkatkan, karena kemungkinan untuk semua mengakses Internet secara bersamaan memang kecil sekali, sama seperti penggunaan saluran telepon yang menerapkan juga teknik sharing pemakaian jaringannya. Bisa dilihat Amerika yang mempunyai pelanggan Internet sangat banyak, biaya akses Internetnya hanya sekitar US$ 300 untuk kecepatan 1,5Mbps, sementara di Indonesia, dengan harga yang sama kita hanya bisa mendapatkan kecepatan maksimum 256Kbps saja, berarti kita punya selisih enam kali lipat lebih mahal dibanding Amerika.

Di Michael’s File Directory, pembaca bisa mengunduh file-file yang berhubungan dengan RT-RW-Net (http://michael.sunggiardi.com/files/index.php?dir=rt-rw-net), ada rt-rw-net.pdf yang berbentuk buku panduan lengkap, presentasi singkat tentang RT-RW-Net (rt-rw-net-non-teknis-04.pdf) dan rt-rw-net.mpg video clip liputan teknologi RT-RW-Net di Bogor oleh MetroTV.

end of part one