E-mail Pak Adi Prasaja di milis IndoWLI memberikan inspirasi Opa untuk nyeloteh lebih dalam pada masalah persaingan yang tidak sehat di dunia perdagangan komputer.
Hubungan Vertikal
Yang dimaksud dengan hubungan vertikal yaitu hubungan antara pabrikan (atau distributor besar yang biasanya ada di Singapura) dengan pedagang di Indonesia.
Biasanya, pada awal kerja sama distribusi barang di Indonesia, pihak pabrikan tidak terlalu memberikan tekanan dalam jumlah barang yang harus dijual, istilahnya, silakan deh mencoba pasar, jual semampunya.
Pada saat pabrikan melihat potensi pasar yang begitu besar, mulailah mereka menekan distributor Indonesia untuk menjual dengan lebih banyak lagi.
Jual lebih banyak terus, sampai akhirnya pedagang Indonesia kelabakan dengan kuota yang diminta, dan pada saat itulah pabrikan dengan tegar meminang distributor lain yang sudah kelihatan punya potensi.
Menunjuk dua distributor dalam satu area memang bukan hal yang haram, karena tujuan pabrikan adalah menjual barang sebanyak mungkin.
Tetapi yang selalu jadi masalah adalah etika bisnis pesaing yang biasanya dibangun dari kondisi yang tidak fair. Persis kejadian seperti pedagang A yang memperbesar pasar, pada saat pasarnya sudah besar, pedagang B yang memetik hasilnya, tanpa perlu bersusah-payah mengalami pasang surut berjualan di Indonesia yang sangat tidak menentu.
Yang lebih menyedihkan, jika pabrikan dengan sangat arogannya langsung turun tangan ke Indonesia, sehingga pihak distributor akhirnya hanya menjadi penonton dan turun derajat menjadi pengecer saja.
Kejadian ini banyak terjadi di dunia teknologi informasi di Indonesia, terutama dalam kurun 20 tahun terakhir, dimana awalnya perusahaan Indonesia berjaya dengan distribusi tunggalnya, tetapi langsung kaput pada saat ada pesaing atau pabrikan langsung turun ke Indonesia.
Semua hal ini dalam bisnis tergolong halal, dan memang sudah semestinya pabrikan memperbesar pasar di satu negara, hanya saja jika dipandang dari sisi emosionilnya, mereka itu semua sama sekali tidak memandang sebelah mata hasil kerja distributor pertamanya, pokoknya mereka mesti mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.
Kesalahan dari distributor pertama biasanya mengatur keuntungan yang terlalu besar, sehingga dengan mudah dalil-dalilnya dipatahkan oleh pedagang yang berada di bawahnya.
Hubungan Horisontal
Hubungan horisontal adalah hubungan antara pengusaha yang berada di Indonesia.
Hubungan ini agak unik, karena dibentuk dengan berbagai kondisi yang berbeda dan menghasilkan kombinasi yang beragam.
Seperti yang sudah disampaikan di tulisan diatas, bahwa seringkali terjadi penunjukan dua distributor di area yang sama pada saat pasarnya sudah menggeliat, dan semuanya didasarkan oleh keinginan memperbesar pasar dari pabrikan.
Hanya saja, penunjukan dua distributor ini terjadi dalam waktu yang berbeda, karena biasanya pihak pertama sudah mengeluarkan daya dan upaya yang lebih besar ketimbang pihak kedua yang masuk belakangan.
Hal ini yang menyebabkan banyaknya Sole Distributor di Indonesia, karena pedagang Indonesia selalu minta perlindungan ke pabrikan, karena pesaingnya selain pedagang yang berada di Indonesia, adalah pedagang dari Singapura atau Malaysia yang seringkali mengacau pasar yang sudah dibentuk oleh distributor resmi.
Pedagang dari Singapura selalu menjadikan Indonesia objek dagangnya, mereka menentukan ke pabrikan bahwa wilayah Indonesia adalah wilayah usahanya. Dan semua sadar, bahwa pasar Indonesia adalah sangat besar jika dibandingkan dengan Singapura yang hanya sebesar satu wilayah di Jakarta.
Pada saat Opa giat berbisnis mencari distributorship di tahun 1995-1998, acapkali Opa harus menjelaskan ke pabrikan yang menggelar pamerannya di Amerika bahwa Indonesia berbeda dengan Singapura. Tapi berkali-kali juga teori ini dapat dipatahkan, soalnya pihak Singapura sudah melakukan perjanjian terlebih dulu dengan pabrikan yang bersangkutan.
Akhirnya, yah kita semua tinggal manut saja diatur oleh distributor di Singapur dan diadu domba oleh mereka melalui pesaing-pesaingnya, baik yang resmi maupun yang kelas eceran dan kerap kali menganggu konsep jualan distributor resminya (pedagang ini biasanya disebut parallel import atau PI).
Belakangan, orang dari Malaysia juga sudah “membaca” keakhlian orang Singapura, yaitu dengan membuka kantor cabang South East Asia, sehingga jualan kita sudah betul-betul ditakar dan ditentukan oleh mereka.
Sebab Akibat
Kenapa kejadian-kejadian yang tidak enak tersebut terjadi di Indonesia ?
Hal pertama adalah karena kebanyakan pedagang Indonesia tidak mempunyai kreatifitas dalam berdagang, dan semua ini disebabkan oleh keinginan cepat kaya atau cepat mendapatkan penghasilan yang besar.
Satu pedagang sukses menjual modem ADSL, semua pedagang berjualan modem ADSL dengan berbagai trick yang akhirnya akan mematikan bisnisnya.
Hal kedua adalah sifat bisnis di Indonesia yang selalu ingin membunuh pesaingnya (lihat tulisan Opa di sini).
Sebetulnya, sifat atau naluri membunuh pesaingnya muncul karena hal pertama, yaitu ingin cepat sukses tanpa mau susah berpikir.
Hal ketiga yaitu tidak adanya aturan yang jelas tentang etika bisnis di Indonesia, karena bidang teknologi informasi ini sangat cepat berubah, sementara aturan, ketentuan dan Undang-Undang masih menggunakan paragraf yang dibuat puluhan tahun yang lalu.
Lembaga yang membuat ketentuan seringkali tidak sinkron dengan aparat penegak hukum, sehingga persepsinya hanya bermuara di UUD - ujung-ujungnya duit.
Hal keempat adalah kepulauan Indonesia yang terlalu besar, sehingga pasar di Sulawesi bisa tidak terlihat dibanding pasar di Jawa, dan pedagang di Sulawesi bisa leluasa “main sendiri” tanpa mengganggu pasar di Jawa.
Hal kelima yaitu tidak adanya superioritas atas semua hal ini, maksudnya seperti Departemen Kominfo misalnya yang dihormati dan ditakuti oleh seluruh komunitas pengguna teknologi informasi.
Jadilah lengkap kejadian-kejadian yang tidak enak terjadi di dalam dunia teknologi informasi di Indonesia.
Sebetulnya, ada perangkat asosiasi yang dapat menengahi seluruh masalah ini, karena yang namanya asosiasi azasnya adalah kebersamaan. Tetapi karena semangat dasarnya adalah “membunuh pesaing”, asosiasi seringkali gagal untuk menjadi penengah, karena anggotanya sudah berkelahi sendiri di dalam.
Kesimpulan
Ngalor-ngidul menulis semua ini tanpa kesimpulan memang pekerjaan yang mudah, tetapi membuat kesimpulanpun bukan persoalan yang gampang.
Hanya saja Opa melihat, bahwa never ending story ini harus diputus, supaya kita jangan berputar-putar di masalah yang sama, sementara negara lain sudah lari mengejar teknologi yang maju pesat.
Salah satu yang bisa memutus cerita tidak berujung ini mestinya Departemen Kominfo, yang secara tegas harus membuat ketentuan yang jelas untuk mengarahkan pedagang teknologi informasi di Indonesia ke jalan yang benar, kemudian bersama-sama dengan polisi menegakan semua ketentuan yang sudah dibuat, sehingga tidak lagi terjadi bumerang menyalahkan departemen terkait untuk masalah-masalah yang seringkali diplesetkan sebagai ketidak tahuan pedagang yang bersangkutan.
Kesimpulan lainnya, mohon maaf … Opa belum bisa lihat.
Bogor, 6 April 2008
Minggu pertama bulan April 2008 ini dikejutkan oleh satu berita yang lumayan besar bobotnya, yaitu terjadinya sweeping atau penertiban atas perangkat telekomunikasi dan wireless seperti modem, bluetooth dan modem 3G di Surabaya.
Saya yang kebetulan sedang berada di Surabaya, mendapat SMS dari rekan saya AKBP Yehu Wangsajaya yang Wakapoltabes Sulawesi Utara, yang memberitahukan berita besar tersebut, bahwa telah terjadi sweeping (baca : penyitaan barang puluhan juta) di THR Surabaya.
Pak Yehu adalah salah satu polisi yang sangat concern terhadap perkembangan dan pemanfaatan dunia teknologi informasi di Indonesia
Dengan naluri pertemanan, saya menelpon rekan saya di Surabaya, dan kebetulan beliau-lah orang yang kena sweeping tersebut, sehingga mulailah cerita-cerita menegangkan seperti film-film horor yang beredar di Indonesia.
Satu hari kemudian, di berbagai milis mulai beredar berita sekitar sweeping ini, ditambah bermacam komentar yang menghujat polisi dan departemen Kominfo yang memang pada prinsipnya sudah memberlakukan aturannya sejak awal tahun 2000-an.
Kenapa aturan yang mestinya kita taati sejak tahun 2000-an, terlewat begitu saja dan baru “bangun” pada saat aparat keamanan mulai menggerebek dan melakukan penertiban.
Pertanyaan ini akan berlanjut dengan keluhan, bahwa mereka tidak tau akan aturan yang ada, dan untuk melakukan pendaftaran serta sertifikasi biayanya terlalu mahal, apalagi mengingat barangnya cepat berubah dan setiap saat harus didaftarkan ulang.
Yah … capek deh …… alasan ini yang akhirnya menyebabkan kejadian THR Surabaya dan kita semua merasa pihak kepolisian sudah berbuat sewenang-wenang, sehingga menyulitkan pebisnis komputer untuk bisa bergerak dan memajukan TI Indonesia.
Dengan dalih “bagaimana kita bisa memajukan teknologi informasi di Indonesia“, kalau pebisnis TI selalu diganggu oleh ketentuan dan kegiatan aparat yang tidak jelas, seperti kejadian pada sweeping piranti lunak dan sampai ke isu pornografi di warnet-warnet, maka mulailah dilakukan pembicaraan yang ngalor-ngidul tanpa hasil.
Lahan untuk memalak pebisnis teknologi informasi ini memang cukup signifikan, karena selain omzetnya besar, juga masih sering terjadinya kerancuan hukum sehingga baik yang ditangkap maupun yang menangkap, sama-sama tidak tau segi hukumnya. Pokoknya barangnya dibawa dulu, urusannya bagaimana nanti - karena prinsipnya, semuanya kan bisa dibicarakan.
Konsep inilah yang akhirnya menjebak kita semua ke dalam satu sistem yang tidak keruan, sehingga semua pihak was-was untuk mengembangkan teknologi informasi, yang sebetulnya merupakan satu sarana untuk bisa bersaing dengan negara lain.
Perangkat hukum dan kejelasan berbisnis di Indonesia masih serba gelap, karena memang negara kita ini negara agraris, dimana bisnisnya tergantung pada kebaikan Tuhan, untuk memberikan hujan, memberikan kesuburan tanah - dan semua ini berbeda dengan bisnis teknologi informasi yang sudah jelas dan tidak mudah diplesetin dengan kata insyaallah.
Adalah fungsi Pak Menteri Kominfo untuk mengantisipasi semua ini, memberikan penyuluhan kepada para pebisnis informasi teknologi dan komputer, sehingga mereka tidak terjebak ke dalam jurang yang dalam, sehingga akhirnya kita semua kehilangan “orang pinter” yang berpotensi membangun negara ini (karena mereka lebih nyaman berbisnis di Singapur atau Malaysia).
Tapi memang tidak mudah untuk memberikan penyuluhan ke pebisnis (teknologi informasi dan komputer), karena setiap paragraf kalimat dapat diartikan berbeda dan dilihat dari arah yang berbeda, bahkan ada beberapa kelompok yang nekad memanfaatkan aturan untuk keuntungan sendiri, dan semua ini terjadi di bumi Indonesia yang semakin lama, kelihatannya semakin amburadul.
Lalu bagaimana penyelesaian terhadap masalah ini ?
Ini yang membingungkan ………….. karena seperti mencari ujung mie yang panjang dan sudah bertumpuk-tumpuk di mangkok yang kecil !
Usulan saya, mari kita mulai dari organisasi terkait, seperti misalnya Awari, Apkomindo atau IndoWLI untuk mulai membuat suatu program yang dibantu oleh Kominfo, untuk men-sosialisikan secara kontinyu semua informasi, ketentuan dan hukum yang berhubungan dengan dunia teknologi informasi, sehingga di kedepannya, mereka-mereka yang menyebut “pebisnis TI” tidak akan protes atau menyalahkan departemen terkait dan pada akhirnya menyebabkan bapak-bapak di Kominfo menjadi risih (kecuali Bapak-bapak sudah terbiasa dengan EGP).
Dengan cara ini pula, kita menghindari adanya pihak-pihak yang memancing di air keruh yang bisa membuat kejadian lebih gelo lagi !
Bogor, 5 April 2008
Tanggal 31 Maret 2008 yang baru lalu merupakan hari yang bersejarah buat Opa, karena selain ulang tahun istri Opa, pada hari yang sama, Opa menutup kegiatan Batutulis Computer di Bogor.
Batutulis Computer yang sudah berusia 26 tahun ditutup karena sudah tidak ada lagi tenaga yang bersedia menangani usaha tersebut, disamping jenis bisnisnya yang sudah tidak relevan lagi dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat dan boleh dibilang edan.
Batutulis Computer dibentuk dari kelompok kawan-kawan Opa di Trisakti, Harry Tanujaya (saat ini masih menjalankan bisnis komputer dibawah nama PT Batutulis Graha Komputronika di Kelapa Gading), Leonard Sangkaen (pengusaha supermarket di Kebun Jeruk), Gunadi Kurniawan (senior engineer Schlumberger di Jepang) - dan pada saat itu kami merupakan teknisi handal untuk memperbaiki perangkat komputer Apple II+ atau Sinclair ZX-81.
Perjalanan Batutulis Computer memang lumayan menakjubkan, karena sejak pertengahan 1986 merupakan trend setter dunia komputer di Bogor dan Jakarta, apalagi dengan dibentuknya Klub Komputer Batutulis Bogor dan Pangkalan PISI yang bermarkas di gedung Gramedia Pal Merah.
Di Bogor sendiri, Batutulis Computer sangat terkenal dengan toko komputer yang lengkap, dan melayani sebagian besar orang asing, mulai dari Australia, Jepang, Amerika, Inggris dan lainnya. USAID, Australian Project dan berbagai proyek bantuan asing ke Indonesia dibantu oleh Batutulis Computer untuk pengadaan perangkatnya.
Usaha komputer mulai menurun sejak krisis ekonomi di tahun 1998, dimana harga konversi dolar Amerika menjadi amat gila.
Batutulis Computer terkena dampaknya secara langsung dan mulai dari awal tahun 2000, menjual komputer tidak lagi merupakan hal yang masuk akal, karena dengan profit hanya 3%, kita harus melayani purna jual selama 12 bulan, dan itupun dengan segala resiko yang harus dihadapi, termasuk konversi dolar yang tidak menentu, menyebabkan keuntungan yang juga tidak menentu.
Opa sendiri sudah keluar dari bisnis komputer dari tahun 1995, pada saat mulai membangun ISP BoNet di Bogor, sehingga dampak-dampak usaha komputer tersebut tidak dirasakan menyulitkan, karena sejak krisis ekonomi, seluruh operasi toko komputer tersebut diserahkan ke tim yang sudah bekerja puluhan tahun di Batutulis Computer.
Mempertahankan Batutulis Computer semata-mata mempertahankan seluruh tim yang bekerja disana, karena kasihan juga mereka tidak mempunyai pilihan lain untuk mencari pekerjaan di era dunia usaha yang serba susah ini.
Akhirnya, pada saat Opa tidak mendapatkan dukungan untuk tetap mempertahankan Batutulis Computer, baik dari partner maupun dari tim yang menjalankan bisnisnya, sehingga keputusan yang sangat susah ini akhirnya harus dijalankan juga, demi kebaikan bersama.
Terima kasih kepada seluruh pelanggan dan rekan-rekan yang turut membantu mengembangkan Batutulis Computer dari tahun awalnya dan mohon maaf kalau Batutulis Computer mengecewakan semuanya, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Bogor, 1 April 2008