Menarik sekali perbincangan prospek warnet di milis Awari, dengan berbagai sanggahan dan pengalaman pribadinya.

Opa-pun jadi tergelitik untuk nulis sekitar bisnis warnet ini, karena kemungkinan besar, bisnis warnet Opa di Bogor termasuk yang paling tua di Indonesia yah, berdiri sejak 1996 (persis kayak pepatah nyonya Meneer …. kekekekekekek).

Bayangin saja, berdiri terus tanpa duduk-duduk selama 11 tahun, dan akan jalan dua belas tahun di tahun Tikus 2008 nanti !

Kuncinya sebetulnya adalah “struggle for life” ditambah lagi “hoki“, karena tanpa keduanya, biar bagaimana jago-pun kita, yah pasti akan kolaps, apalagi kalau cuma ngikut-ngikut saja.

Pada saat saya dan Wak Haji Onno berkeinginan untuk “menjual” konsep warnet ini ke seluruh nusantara di tahun 1999, bisnis warnet pada saat itu sedang boom - semua mau bikin warnet, dan saya ingat sekali, di Bogor, kota kelahiran Opa, ada sekitar 200-an (betul … dua ratus) warnet yang terdaftar ke ISP Opa, termasuk beberapa ke “pesaing”-nya.

Tapi begitu “mainan” chatting sudah tidak populer lagi, berangsur-angsur warnet rontok dengan otomatis, termasuk warnet-warnet yang tadinya jago-an (yang diamati warnet sekitar Bogor/Jakarta), di tahun 2004/2005 hanya sekitar 40-an warnet kali yang maju dan mundur bergantian di Bogor.

Sekarang, di Bogor yang jadi jagoannya adalah warnet-nya Bang Sahala, dimana-mana ada warnet dia dan ramai pula poengunjungnya.

Jadi kan aneh juga kalau dimana-mana bisnis warnet tenggelam, tapi tiba-tiba Bang Sahala bisa membuktikan bahwa bisnis warnet itu hebat, dengan mengakuisisi puluhan warnet dibawah benderanya.

Sekali lagi kita lihat, bahwa faktor “struggle for life” plus “hoki” membuat Bang Sahala menjadi begitu maju, dalam keadaan dimana semua bisnis warnet pas-pas-an.

Definisi “struggle for life” adalah kalau si pengusaha-nya betul-betul mengandalkan bisnis warnet ini sebagai dapur ngebul sehari-harinya, sehingga dia tidak akan bisa mengantisipasi kesalahan kecil-pun yang bakal menyebabkan usahanya melemah.

Definisi “hoki” adalah kalau Tuhan merestui kita dan kita dijalan yang pas, timing dan kesempatannya pas, yah kita bisa melaju dengan cepat. Orang Cina itu menyebutnya “hoki te it”, diterjemahkan sebagai “hoki itu yang utama” sudah tentu dalam bisnis yah.

Nah … terus mungkin pembaca bertanya …. koq Opa nggak mau “menyaingi” Bang Sahala, padahal kalau kemampuan sih kagak ketinggalan.

Jawabannya ….. bisnis warnet itu bukan bisnis yang harus di “struggle for life“-kan oleh Opa, jadi yah silakan saja Bang Sahala dan kawan-kawan maju untuk nantinya pasar pengguna Internet akan semakin membesar dan pada saat itu, Opa pasti kena beleberan pelanggannya. Toh warnet Opa masih tetap jalan, walaupun dari totalnya tujuh warnet sekarang sudah menjadi dua saja, karena kebenturnya di human resource, orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan bisnis warnet dengan benar dan konsisten.

Konsep ini pula yang dilakukan Opa selama lebih dari 7 tahun, bersama Wak Haji Onno muter-muter Indonesia untuk sharing knowledge, padahal menyelenggarakan suatu event semacam roadshow itu, hasilnya hanya capek saja.

Namun, inti dari semua usaha ini sepertinya tidak sia-sia, karena minimal Opa sudah mendapat banyak kawan dan sedikit sekali “musuh”, walaupun di bisnis yang sama. Dan yang paling penting, Opa bisa mengisi waktu yang semestinya berisi keluh kesah dan muka mengkerut stresssss karena belum waktunya Internet datang ke Indonesia, seperti yang di iklan-kan di tivi.

Internet belum bisa banyak berkiprah di Indonesia, karena sistem pendidikan kita tidak mendukung, sehingga akhirnya, kebutuhan akan penambahan pengetahuan dan mau nyari informasi hanya setengah-setengah, kalah dengan isu nonton sinetron, pornografi, politik dan sosial.

Muter-muter, kesimpulannya, bisnis warnet akan jadi sesuatu yang bisa diharapkan kalau saja kita konsisten dan berfungsi seperti “struggle for life” dan mudah-mudahan, pemerintah dengan program Jardiknas-nya bisa menghasilkan anak-anak muda berjiwa Internet, sehingga lima atau sepuluh tahun lagi akan buaaanyyak pemakai Internet dan akhirnya membuat Internet itu jadi murah.

Pada saat itu, kemungkinan warnet dimanfaatkan untuk kumpul-kumpul komunitas atau orang kefefet di kota lain saja, karena semuanya kan sudah menggenggam OPLC-nya Nicholas Negroponte dan akses Internet yang nyaris gratis, bisa menggantikan langganan koran atau majalah !

So harap-harap kita semua masih bisa melihat kejadian itu ……

Bogor, 28 Desember 2007